Permintaan China Pulih, Harga Batu Bara Diprediksi Rebound pada 2026

Rabu, 21 Januari 2026 | 12:47:13 WIB
Permintaan China Pulih, Harga Batu Bara Diprediksi Rebound pada 2026

JAKARTA - Batu bara tetap memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan energi di negara tersebut. 

Harga batu bara Newcastle untuk kontrak Januari 2026 tercatat naik sebesar 0,85% menjadi US$ 109,95 per ton, sementara harga batu bara untuk kontrak Februari 2026 meningkat sebesar 0,85% menjadi US$ 112,2 per ton. 

Tak kalah signifikan, harga batu bara kontrak Maret 2026 juga menunjukkan lonjakan sebesar 0,8% menjadi US$ 112,3 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak Januari 2026 mengalami kenaikan sebesar US$ 0,5 menjadi US$ 97,85 per ton. Pada kontrak Februari 2026, harga batu bara Rotterdam kembali mengalami kenaikan lebih tinggi, yakni US$ 1,65, menjadikan harganya berada di level US$ 97 per ton. 

Meskipun ada kenaikan pada kontrak Januari dan Februari, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak Maret 2026 tercatat mengalami kenaikan sebesar US$ 1,35, namun tetap berada di level lebih rendah yakni US$ 95,5 per ton.

Kenaikan Harga Dipicu Permintaan China yang Diprediksi Meningkat

Berdasarkan data yang dikutip dari CoalHub, permintaan batu bara di China diperkirakan akan menguat pada 2026. Hal ini disebabkan oleh proyeksi pemulihan kebutuhan listrik yang sempat melemah pada 2025. 

Menurut laporan tersebut, kenaikan harga batu bara didorong oleh sejumlah faktor, seperti meningkatnya konsumsi energi rumah tangga, ekspansi pusat data, serta kebutuhan listrik terkait dengan kecerdasan buatan (AI). 

Selain itu, penetrasi kendaraan listrik juga diperkirakan akan meningkatkan permintaan energi, yang pada akhirnya turut mendorong lonjakan permintaan batu bara.

Seiring dengan proyeksi tersebut, meskipun China semakin memperluas kapasitas energi terbarukan dan nuklir, sumber energi tersebut diperkirakan belum mampu sepenuhnya menutupi kebutuhan listrik, terutama saat terjadi puncak beban atau saat produksi listrik terhambat. 

Oleh karena itu, pembangkit listrik berbasis batu bara diprediksi akan tetap memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan listrik domestik di China, baik saat beban puncak maupun ketika pasokan energi terbarukan belum mencukupi.

Peran Batu Bara yang Masih Dominan di China

China, sebagai negara konsumen, produsen, dan importir batu bara terbesar di dunia, masih sangat bergantung pada batu bara untuk mendukung roda perekonomiannya.

Meskipun China sedang berupaya mengurangi ketergantungan pada batu bara dengan mengembangkan energi terbarukan, batu bara tetap menjadi pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan energi yang terus berkembang. 

Hal ini terlihat dari berbagai proyek yang sedang berjalan, salah satunya adalah peluncuran lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga batu bara yang direncanakan oleh China pada tahun ini.

Proyek-proyek ini bertujuan untuk mendukung pasokan listrik baik untuk kebutuhan domestik maupun untuk ekspor ke negara-negara lain. 

Pembangkit-pembangkit listrik ini diyakini akan memperkuat kebutuhan batu bara di China, meskipun di sisi lain Beijing juga terus berupaya mengurangi penggunaan batu bara secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan. 

Rencana pengurangan penggunaan batu bara tersebut diharapkan dapat tercapai sebelum 2030, sesuai dengan komitmen China untuk mengurangi emisi karbon dan transisi ke energi yang lebih ramah lingkungan.

Pembangunan Energi Terbarukan dan Komitmen China

Di tengah ketergantungan pada batu bara, China juga menunjukkan keseriusannya dalam beralih ke energi terbarukan. Meskipun upaya untuk mengurangi penggunaan batu bara terus digencarkan, transisi tersebut membutuhkan waktu dan perencanaan yang matang. 

Energi terbarukan dan sumber energi alternatif lainnya memang telah berkembang pesat di China, namun kapasitas energi terbarukan tersebut diperkirakan masih jauh dari cukup untuk menggantikan peran batu bara dalam menjaga kestabilan pasokan listrik, terutama pada periode puncak permintaan atau saat kondisi cuaca tidak mendukung.

China juga diperkirakan akan terus memperluas penggunaan sumber energi lainnya, seperti tenaga nuklir, untuk mencapainya. 

Walaupun demikian, batu bara masih diperkirakan akan tetap menjadi sumber energi dominan dalam jangka pendek hingga menengah, mengingat kontribusinya yang besar terhadap perekonomian negara tersebut.

Dampak Kenaikan Harga Batu Bara terhadap Ekonomi Global

Kenaikan harga batu bara ini juga diperkirakan akan mempengaruhi pasar global. Sebagai negara dengan konsumsi batu bara terbesar, fluktuasi harga batu bara di China dapat berdampak pada harga global, baik untuk batu bara jenis termal maupun metalurgi. 

Negara-negara penghasil batu bara besar lainnya, seperti Indonesia, Australia, dan Rusia, tentu akan merasakan dampak dari perubahan ini, mengingat China merupakan pasar utama ekspor batu bara bagi banyak negara tersebut.

Sementara itu, bagi Indonesia, sebagai salah satu negara eksportir batu bara terbesar, kenaikan harga batu bara dapat menjadi angin segar bagi perekonomian, karena dapat meningkatkan pendapatan negara dari sektor ekspor. 

Namun, volatilitas harga batu bara juga bisa menjadi tantangan, karena ketergantungan yang tinggi pada pasar China bisa membuat negara-negara eksportir rawan terhadap fluktuasi harga dan permintaan.

Secara keseluruhan, harga batu bara yang mengalami kenaikan pada awal tahun 2026 diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan proyeksi pemulihan permintaan di China. 

Meskipun China semakin mengembangkan energi terbarukan dan berkomitmen mengurangi penggunaan batu bara, batu bara tetap menjadi elemen kunci dalam menjaga ketahanan energi negara tersebut. 

Ke depan, meskipun ada pergeseran menuju energi yang lebih ramah lingkungan, kebutuhan akan batu bara diperkirakan masih akan tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.

Terkini